(Bukan) Epilog, Melainkan Sebuah Permulaan - Pelajaran yang Aku Dapatkan dari Kisah Hidupku [Chapter 5]

Ahmad Ali Buni

Note: Read Carefully!

"Beberapa kata mungkin akan dimengerti oleh kepalamu,
dan beberapa kata mungkin juga akan dimengerti oleh hatimu."
~ Hippocrates ~

Setiap orang ingin menjalani hidupnya dengan mudah. Namun, yang seperti itu hanya sedikit orang saja yang bisa merasakannya. Sisanya, melalui hari-harinya dengan kerja keras dan merasakan sulitnya hidup. Beratnya perjuangan dan sakitnya berkorban adalah resiko yang sudah wajar dihadapi oleh orang-orang seperti itu. Sepertiku.

Jer Basuki Mawa Bea

Ya! Begitulah filosofi para leluhurku (Jawa) yang berarti perjuangan itu membutuhkan pengorbanan. Harus kerja keras terlebih dahulu sebelum menikmati hasilnya. Harus sengsara dahulu sebelum sampai di kemulyaan. Bukan dibalik. Jangan sebaliknya.

Faktanya, tidak ada satupun kemulyaan yang instan. Semua butuh proses. Terkecuali jika dari lahir sudah disuapi pakai sendok emas. Itu pun tidak menjamin segalanya. Karena dalam hidup, nggak ada jaminan buat terus bahagia, nggak ada kepastian buat apapun. Setiap orang bisa terlempar keluar dari rasa nyamannya ... secara tiba-tiba. Dan jika kemungkinan terburuk itu terjadi, mereka yang terbiasa ditempa oleh perjuangan dan pengorbanan akan mampu bangkit untuk melewatinya.

Be Grateful

Selalu ada hikmah dan pembelajaran dari setiap peristiwa yang kita lalui.

Tidak semua orang menghadapi apa yang aku hadapi, tidak semua orang mengalami apa yang aku alami, tidak semua orang melewati apa yang aku lewati, dan tidak semua orang mendapatkan apa yang aku dapatkan. Kenapa aku melalui semua itu? Adakah maksud lain yang melatarbelakanginya?


Lalu aku sadar dan selalu menyadarinya. Aku paham dan akan selalu memahaminya. Dari semua pahit manis peristiwa yang aku alami, dari semua jatuh-bangun dan jatuh lagi kemudian bangkit lagi, dari semuanya. Ternyata, kerikil dan terjal jalanan yang sudah menggores luka di telapak kakiku inilah wahyu pribadiku untuk menggapai sejatinya hidup. Terlebih lagi, aku jadi merasa diperhatikan oleh-Nya. Aku bersyukur sekali.

Dan Semua Itu Telah Membangun Pribadiku Yang Sekarang

Seorang terpelajar harus berlaku adil, bahkan sejak dalam pikiran. Dan hati itu saksi paling jujur, bahkan ketika niat baru sehalus bersit. Pada akhirnya aku jadi tahu, mana diriku yang sebenarnya, mana yang bukan diriku, dan aku juga tahu apa yang ingin aku jalani.

Air harus terus mengalir atau akan keruh dalam genangan. Right?

Aku selalu bangga akan diriku dan kemampuanku merangkai kata. Kata adalah, dalam opiniku, hampir seperti sumber sihir yang tak ada habisnya. Mampu untuk memberikan luka, maupun mengobatinya.

Menurutmu apa artinya menjadi manusia? Kita membuat banyak kesalahan. Ya! Aku membuat baaaaanyak sekali kesalahan (sekarang juga masih). Tapi terkadang, dari kesalahan-kesalahan itu muncul hal mengagumkan. Seperti halnya 'carilah ke dalam barang rongsokan, dan temukanlah harta karun' .... Aku mempercayainya, manusia bisa menjadi baik. Aku bisa menjadi baik.

Tentang Mimpi

Apa kalian tahu, sebagian dari kehidupan manusia itu setengah sadar dalam mimpi. 

Saat beberapa orang fokus akan impian yang belum tergapai ... aku percaya, perjalanan menemukannya jauh lebih penting daripada tujuan akhirnya.

Jujur saja, berapa banyak dari kita yang tidak tergapai impiannya? Tidak hanya aku saja, aku yakin ada banyak sekali orang-orang di luar sana yang tidak tergapai impiannya. Akan tetapi, hanya karena impian itu tidak tergapai, bukan berarti itu akhir dari segalanya bukan? Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata:
"Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
Cita-citaku untuk menjadi seorang guru memang sudah gugur, lama sekali. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki mimpi .... Aku ingin menjadi orang hebat:

Dan ini bukan epilog, ini hanya sebuah permulaan.


Ahmad Ali Buni

SUBSCRIBE