Cerita dari Candi Angin – Jepara: Wisata Mendaki, Misteri Sejarah, dan Perburuan Kopi Terbaik

By Ahmad Ali Buni - 4/29/2019

cerita dari candi angin

Dari sekian banyaknya candi yang ada di Negeri Pertiwi, mulai dari Candi Borobudur, Candi Prambanan, atau Candi Arjuna, dan banyak lagi candi lainnya yang sudah terkenal—bahkan sampai mancanegara, pernahkah kalian mendengar tentang Candi Angin?

Hmm. Saya yakin, siapa saja yang selain warga Jepara pasti akan sangat asing—and then start searching information in wikipedia 😆.

Pada awalnya, yang menjadi tujuan utama saya pergi ke Candi Angin adalah untuk pemanasan hiking sebelum mendaki gunung-gunung yang jauh lebih tinggi. Tetapi tidak itu saja, karena ibarat paket 3 in 1, selain sebagai ajang untuk pemanasan mendaki, juga sebagai refreshing dengan wisata alam dan sejarahnya, dan (berharap) bisa membawa pulang kopi terbaik yang ada di Jepara.

Tentang Candi Angin

Lokasi & Akses

spot foto tempur village

Berlokasi di Kabupaten Jepara, tepatnya di Dukuh Duplak – Desa Tempur, Kecamatan Keling – Jepara, Candi Angin seolah mengasingkan dirinya karena berada tepat di atas salah satu puncak Gunung Muria—tepatnya puncak yang berada di sebelah utara—dengan ketinggian ± 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karena itu pula puncak paling utara dari Gunung Muria ini dinamai Puncak Candi Angin. 

Untuk petunjuk dan akses jalan—beruntunglah kita yang hidup di zaman yang serba modern ini, yang bisa dengan mudahnya mencari sebuah lokasi tempat dengan bantuan google maps—akan ada beberapa pilihan tentang jalur untuk berkendara menuju lokasi, namun saya sarankan untuk mengambil jalan dengan rute Jl. Raya Tayu (Pati) – Jepara. Sedikit lebih memutar memang, namun karena beberapa alasan untuk kemudahan mencari toko penyedia kebutuhan, SPBU, tambal ban, dan hal-hal lain yang mungkin susah untuk ditemui jika mengambil rute tercepat yang mana cenderung melewati jalan pedesaan yang jauh dari keramaian. Kalau saya pribadi lebih suka ambil aman.

Untuk kendaraan, saya sarankan untuk menggunakan kendaraan roda dua. Kenapa? Melihat akses jalan ketika sudah sampai di Desa Tempur dan mulai memasuki jalur yang semakin menanjak untuk sampai ke dukuh Duplak (dukuh yang lokasinya berada di paling atas dari Desa Tempur, sekaligus menjadi dukuh tertinggi yang ada di Jepara) mengalami penyempitan jalan yang akan susah sekali jika sampai berpapasan dengan kendaraan dari lawan arah.

Di samping itu, jalur kendaraan tersebut cenderung saya kategorikan ekstrim. Bukan karena buruknya akses jalan—justru jalan aspal sampai ke Dukuh Duplak terbilang baru dan masih mulus—melainkan karena karakter medannya itu sendiri. Tanjakan curam yang berakhir dengan tikungan tajam, lalu turunan yang langsung disambung dengan tikungan tajam yang langsung diteruskan dengan tanjakan yang panjang dan ditambah dengan keberadaan jurang yang ada di samping kita .... 

Kalian yang sering melakukan perjalanan ke gunung dengan berkendara sendiri mungkin akan berpikir kalau "medan jalan di atas gunung kan memang seperti itu ...." No! Ini beda. Setiap kali saya naik gunung, saya melakukan perjalanannya dengan berkendara sendiri dengan sepeda motor saya, dan medan perjalanan menuju dukuh Duplak ini benar-benar berbeda dari yang lainnya. Saya sendiri menyebut jalur berkendara ke dukuh Duplak tersebut sebagai jalur berkendara paling menantang yang pernah saya lalui dalam perjalanan saya. 

Namun jangan sungkan terlebih dahulu, dengan suguhan pemandangan hijau khas pegunungan, kilau dan gemericik air sungai yang menghantam bebatuan, sawah yang berjajar berundak, dan sesekali riuh air terjun yang sangat menggoda, saya rasa tidak akan hinggap ketakutan dan kengerian di hati kalian ketika berkendara menuju dukuh Duplak.

Dan bagi yang terpakasa menggunakan kendaraan roda empat, terdapat pula pilihan untuk memakirkan kendaraan begitu memasuki Desa Tempur, dan dilanjutkan dengan menyewa jasa ojek sepeda motor untuk sampai ke Dukuh Duplak, yang mana merupakan pos awal pendakian menuju Puncak Candi Angin.

Administrasi dan Pantangan

Tidak seperti obyek wisata atau pendakian lainya, di Candi Angin syarat administrasi cukup melapor ke Juru Kunci mengenai tujuan dan keperluan mendaki ke Candi Angin. Perihal pantangan, setahu saya tidak ada pantangan khusus. Begitu pula berdasarkan apa yang disampaiakan oleh Juru Kunci setelah saya tanyakan perihal pantangan yang diberlakukan di sana, hanya jaga kesopanan dan diharapkan berprilaku yang baik saja. Namun saya tambahkan sendiri di sini; pantangan pertama adalah dilarang meremehkan trek, mau seringan apapun trek tersebut. Yang kedua adalah dilarang keras membuang sampah sembarangan, kalau perlu dibawa pulang (pantangan utama sejuta pendaki). 

Mulai Mendaki

Bicara mengenai mendaki, saya sendiri mengawali mendaki pertama kali dengan mendaki Puncak Candi Angin. Karena bingkisan pengalaman dari mendaki yang pertama tersebut pula saya jadi keterusan ingin mendaki dan terus mendaki lagi. Dan sudah jadi candu kini.

Apakah ada di antara kalian yang memiliki keinginan untuk mendaki gunung, namun karena berbagai alasan seperti belum pernah sama sekali, atau masih ragu-ragu untuk mencoba, atau karena alasan klasik seperti tidak adanya peralatan dan perlengkapan mendaki yang dimiliki, jadi pengahambat gugurnya niat untuk mendaki? Jangan lagi. Puncak Candi Angin adalah solusi sekaligus rekomendasi. 

Karakteristik jalur pendakian Candi Angin sangat cocok bagi pendaki pemula yang ingin memulai belajar serta mencari pengalaman dalam mendaki. Tingkat kesulitan trek yang ramah untuk pemula, panjang jalur pendakian yang terbilang singkat, serta adaptasi ketinggian yang terbilang ringan, menjadi alasan mengapa pendaki pemula sangat cocok untuk menjajal trek Candi Angin.

Misteri Sejarah

Dari obrolan saya dengan Sang Juru Kunci, saya mendapatkan informasi berupa cerita yang di-tutur-tinular-kan dari Juru Kunci sebelumnya sebagai berikut: 

Pada masa kerajaan Kalingga, seorang Resi bernama Resi Wigoyotoso datang ke dukuh Duplak untuk bertapa di puncaknya. Bukan bertapa biasa, melainkan untuk membangun sebuah Candi yang nantinya diperuntukkan sebagai tempat peribadatan bagi Sang Ratu Adil dari Kerajaan Kalingga (Jepara), Ratu Shima.

Tidak seperti cerita Borobudur atau Prambanan yang pembangunannya dikerjakan oleh bangsa jin, konon batu-batu andesit yang menjadi material utama Candi Angin bergerak sendiri dari berbagai penjuru dan menyusun bangunan-bangunan berundak yang kini dikenal sebagai Candi Angin. Sulit untuk bisa dipercaya memang. Dan tidak hanya satu, melainkan ada 3 buah candi yang ter-bangun selama Resi Wigiyotoso bertapa. Candi pertama yang berdiri adalah Candi Bubrah, kemudian Candi Aso, dan yang terakhir adalah Candi Angin.

1. Candi Bubrah


candi bubrah

Candi yang pertama ini dinamai Candi Bubrah karena dari penampakan candi ini sendiri telah luruh atau bubar. Beberapa sumber mengatakan bahwa penamaan Candi Bubrah ini didasarkan pada pertama kali ditemukannya kondisi candi ini sudah bubar atau bubrah (Jawa). Namun Juru Kunci memberikan informasi yang berbeda, bahwa sejak dari awal ter-bangunnya candi ini memang sudah bubrah. Dan justru, Juru Kunci mengatakan kalau sebenarnya candi yang pertama ini sebenarnya tidak jadi atau tidak sempurna dalam proses pembangunannya. Terlebih karena berjalannya waktu, karena faktor alam dan lain sebagainya, Candi Bubrah jadi semakin luruh bak candi yang telah rusak.

candi bubrah

Foto di atas adalah penampakan Candi Bubrah setelah pemugaran yang dilakukan oleh Badan Arkeologi D.I. Yogyakarta pada tahun 2005. Saya sendiri tidak bisa membayangkan se-bubrah apa kondisi candi ini sebelum pemugaran. 😌

2. Candi Aso

Setelah Candi Bubrah, candi kedua yang ter-bangun adalah Candi Aso. Letaknya tidak begitu jauh dari Candi Bubrah. Namun saat pendakian menuju candi yang kedua ini, saya dan rekan kebingungan karena tidak kunjung menemukan jalur mana yang mengarah ke Candi Aso ini. Juru Kunci sendiri sebelumnya telah memberikan rincian jalur ke masing-masing candi, tapi kami gagal menemukannya. Mungkin karena kami yang jeli karena ada beberapa jalur yang mulai tertutup oleh pohon dan tumbuh-tumbuhan. Terlebih untuk Candi Aso yang kata sang Juru Kunci jarang dikunjungi oleh orang karena harus mengambil jalur lain di tengah-tengah perjalanan.

Jika diartikan berdasarkan bahasa, Aso berarti 'istirahat'. Mungkin karena letaknya yang berada di tengah-tengah antara kedua candi, orang yang menyempatkan singgah di Candi Aso seolah-olah sedang beristirahat di setengah perjalanan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Angin yang letaknya berada di puncak.

3. Candi Angin

candi angin

Setelah Candi Bubrah dan Candi Aso, candi ketiga dan terakhir yang ter-bangun adalah Candi Angin. Letaknya berada di puncak yang paling tinggi.

candi angin

Ada beberapa alasan kenapa candi ini dinamai Candi Angin. Beberapa mengatakan bahwa candi ini selalu diterpa angin, yang menurut saya terkadang lumayan kencang. Ada beberapa yang mengatakan bahwa letak Candi Angin ini sendiri berada di jalur angin, yang saya tidak begitu mengerti apa maksudnya. Juru Kunci Candi Angin sendiri mengatakan hal kurang lebih sama. Namun di akhir beliau menambahkan alasan kenapa candi ini dinamai sebagai Candi Angin: Bahwa bagi beberapa orang yang memiliki kemampuan melihat dengan mata batin, kebanyakan mereka akan atau telah melihat adanya pusaran angin pada bagian utama candi ... dan entah kenapa aku lebih yakin dengan alasan yang terakhir ini. I don't know Why. 😂

Dari analisa karbon yang pernah dilakukan oleh Balai Arkeologi D.I. Yogyakarta pada tahun 2005, Candi Angin diperkirakan dibangun pada masa sebelum pembangunan Candi Borobudur. Dan tentu saja, kalau memang benar komplek Candi Angin ini dibangun pada masa kerajaan Kalingga, tentu saja candi ini jauh lebih tua jika dibandingkan dengan Candi Borobudur. Peradabannya pun jauh lebih tua. Hayo ... buka buku sejarah kalian lagi .... 😀

Untuk informasi selebihnya saya tidak bisa menyampaikannya karena keterbatasan data yang saya dapatkan. Bahkan sampai kini Candi Angin merupakan candi yang masih menyimpan teka-teka yang belum terpecahkan.

Kopi Terbaik dari Jepara

kopi tempur

Jika kalian berkunjung ke Desa Wisata Tempur, lebih-lebih jika kalian sampai ke Candi Angin – dukuh Duplak, sempatkan untuk membeli kopi-kopi terbaik yang ada di Jepara. Di Desa Wisata Tempur sendiri terdapat banyak sekali yang kios-kios yang menjajakan kopi khas Jepara, khususnya kopi Tempur dengan banyak jenis dan merk yang ada.

Rekomendasi saya, untuk kalian penikmat kopi robusta, kalian bisa mencoba kopi robusta yang berasal dari dukuh Duplak. For me it's the best.

Sedangkan untuk kalian penikmat arabika, kalian bisa mencoba arabika Tempur. Soal rasa, kalian sendiri yang menilainya.

Satu hal yang perlu diketahui, baik Robusta Duplak maupun Arabika Tempur, keduanya merupakan kopi langka yang susah sekali untuk bisa didapatkan di pasaran.

⇝⇝⇝❌⇜⇜⇜

Ekstra

Ada pengalaman unik dalam perjalanan ini. Ketika pertama kali saya sampai di Desa Wisata Tempur, saya dan rekan saya menyempatkan untuk berfoto dengan rekan-rekan di spot foto 'Tempur Village' yang ternyata harus antri dan bergantian dengan pengunjung lain yang tidak sedikit. 😌

Dan ketika tiba giliran kami, kami memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil gambar seperlunya karena musti meneruskan perjalanan menuju dukuh Duplak. Tidak lama setelah puas bergaya begini dan begitu, kami melihat sebentar foto-foto yang sudah kami ambil ... yang menurut saya ada satu yang lumayan menarik. Bukan karena kualitas fotonya, melainkan adanya satu makhluk hidup yang ikut bergaya pada foto tersebut. Yaitu seekor kupu-kupu.


Kalian bisa melihatnya? Kupu-kupu itu berada sedikit di atas antara huruf e dan kepala saya. See? 

Singkat cerita, kami sampai di dukuh Duplak. Kami memakirkan kendaraan kami di kediaman Juru Kunci Candi Angin. Melapor perihal tujuan kedatangan kami, lalu izin untuk melakukan apa yang menjadi hajat kami. Yaitu untuk sekadar plesir dan napak tilas di Candi Angin. Kemudian kami mulai mendaki dengan sebelumnya kami sempatkan terlebih dahulu untuk mengerjakan kewajiban kami sebagai seorang muslim. Shalat.

mulai mendaki

Bagi kalian yang beragama Islam tidak perlu cemas akan ada atau tidaknya fasilitas peribadatan, karena mayoritas penduduk di dukuh Duplak menganut agama Islam, sudah sewajarnya ada fasilitas peribadatan seperti mushola.

Alon-alon waton kelakon. Pelan namun pasti. Sesekali berhenti sekadar untuk istirahat sebentar juga perlu.

kebun kopi dukuh duplak tempur keling jepara

Jangan terlalu tergesa-gesa dalam melakukan perjalanan karena akan percuma jika tidak bisa menikmati perjalanan itu sendiri. Bukan begitu?


pemandangan di candi angin
pemandangan di candi angin
pemandangan di candi angin
pemandangan di candi angin
pemandangan di candi angin


Setelah berjalan selama kurang lebih satu jam, tibalah kami di Candi Bubrah. Take a break.

Puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali untuk menuju candi selanjutnya, Candi Aso, yang ternyata tidak bisa kami temukan di mana letaknya. 😂

Karena tidak berhasil menemukan Candi Aso, kami memutuskan untuk langsung menuju puncak saja. 

Butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk bisa sampai di Puncak Candi Angin. Di sini kami mengeluarkan isi tas kami, waktunya untuk menyiapkan makan siang. 

cooking

Jika ada di antara kalian yang berniat untuk camping di puncak Candi Angin, saya merekomendasikan untuk mendirikan tenda di dekat lokasi Candi Angin ini. Di sini ada beberapa spot yang pas untuk mendirikan beberapa tenda sekaligus. Namun harus selalu diingat: tetap jaga sopan-santun dan jangan buang sampah sembarangan. Jangan buang sampah sembarangan!

Dan lagi, ada kejadian unik seperti saat berada di spot foto Tempur Village. Di sini, begitu saya sudah berada di Puncak Candi Angin, ketika saya sedang asyik berswafoto, saya juga mendapati kupu-kupu yang menurut saya sama dengan yang sebelumnya.

candi angin

Ini hanya menurut saya saja kalau kupu-kupu itu sekilas terlihat sama. Lalu hubungannya apa? Entah. 😂

Selang waktu berjalan, hari sudah berganti menjadi sore. Karena tidak ada niatan dan persiapan untuk camping, kami bergegas turun dan pulang. Saatnya berpisah dengan Candi Angin.

puncak candi angin dari kejauhan
ladang bunga puncak candi angin
sunset candi angin


*Artikel ini ditulis berdasarkan perjalanan yang saya lakukan pada tahun 2017 lalu. Jika ada ketidaksesuaian dan perubahan informasi, mohon untuk bisa menghubungi saya melalui komentar atau form kontak yang telah disediakan.*

  • Share:

You Might Also Like

0 comments