Cara Agar Puasa Ramadhan Penuh Rahmat, Berkah, dan Bermakna [#2]

By Ahmad Ali Buni - 5/06/2019

agar puasa ramadhan penuh rahmat, berkah, dan bermakna


Banyak hikmah yang bisa kita petik di bulan suci nan mulia ini, yang semuanya mengarah pada peningkatan makna kehidupan, peningkatan nilai diri, tingkat spiritual, dan pemurnian jiwa dan nurani.

Kewajiban puasa ini bukanlah sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan manusia. Puasa telah Allah SWT wajibkan kepada kaum beragama sebelum datangnya Baginda Rasul Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah yang ada dalam surat al-Baqarah ayat 183:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [QS. 2:183]
Ayat ini menegaskan tujuan akhir dari disyariatkannya puasa, yakni untuk menggapai takwa. Namun, perlu diingat kembali bahwa ketakwaaan yang Allah SWT janjikan itu bukanlah sesuatu yang cuma-cuma diberikan kepada siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari 'rahim' Ramadhan adalah mereka yang lulus dalam ujian-ujian yang berlangsung pada bulan diklat itu.

Tak heran kiranya jika Rasulullah SAW bersabda: 
"Banyak sekali orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu selain lapar dan dahaga." [HR. An Nasai & Ibnu Majah]
Ya, mereka berpuasa, namun tidak merenungkan makna spiritual puasa; mereka akan kehilangan kesempatan untuk meraih kandungan hakiki dari puasa itu.

Lantas apa yang mesti kita lakukan?

Hal-Hal Yang Dapat Menjadikan Puasa Kita Penuh Rahmat, Berkah, & Bermakna

Beberapa hal berikut ini mungkin akan bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmat, berkah, dan bermakna, antara lain seperti:

Mempersiapkan Persepsi yang Benar Tentang Ramadhan

Bergairah tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas sangat berhubungan dengan sejauh mana persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal yang semacam ini juga bisa menimpa kita semua saat kita tidak memiliki persepsi yang benar tentang puasa.

Maka dari itu, setiap kali Ramadhan menjelang, Rasulullah SAW mengumpulkan para Sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadhan itu sendiri. Rasulullah SAW bersabda:
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini. [HR. Thabrani]
Rasulullah SAW menyampaikan hadis di atas supaya para sahabat dan tentu saja kita semua bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati yang berbahagia. Maka menurut Rasulullah SAW, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna apa-apa.

Persepsi yang benar juga akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan ampunan; maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat; maka kita akan berlomba dengan antuasias untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka; maka kita akan berlari untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup; maka kita tidak akan mau mendekatinya sehingga dia akan menganga.

Membekali Diri dengan Ilmu yang Cukup & Memadai

Untuk mengarungi perjalanan puasa kita di bulan suci ini, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu: Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syarat hukumnya, hal yang boleh dan tidak diperbolehkan, dan apa-apa saja yang dianjurkan di dalamnya.

Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi panduan pada saat kita sedang berpuasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berkualitas. Sebagaimana yang telah baginda Rasul sabdakan:
"Barangsiapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya." [HR. Ibn Hibban & Al Bayhaqi]
Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, hendaknya sejak awal kita harus siap mengisi puasa tersebut dari dimensi lahir maupun batinnya. Puasa merupakan 'sekolah moralitas dan etika', tempat berlatih bagi orang-orang mukmin. Latihan bertarung mengekang hawa nafsunya, berlatih menempa kesabarannya, berlatih mengokohkan sifat amanah, berlatih meningkatkan semangat dan kemauan, berlatih menjernihkan hati dan akal pikiran, dan lain sebagainya.

Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam: Sebab perut yang selalu penuh dengan makanan akan mematikan pikiran, menumpahkan hikmah, dan memalaskan anggota badan.

Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasih sayang, solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.

Tak kalah pentingnya, yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk tidak melakukan hal-hal yang Allah SWT murkai.

Dimensi ini akan dicapai kala puasa mata kita tidak untuk melihat hal-hal yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang melalaikan kita dari Allah SWT, mulut kita tidak untuk mengatakan perkataan dusta dan sia-sia, kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat bertabur maksiat dan kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh barang haram, pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Serta dalam dalam pikiran dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama, angkara, rakus, tamak, serta keangkuhan.


Jadi, mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan amal ke depannya. Semoga Allah SWT meridhoi kita semua. Amin.


Source: Kuliah Subuh Ramadhan #2 oleh Drs. H. Moh. Isa Anwari Bah

  • Share:

You Might Also Like

0 comments