Cara Rasulullah Merayakan Idul Fitri dan Tradisi Lebaran di Indonesia [#10]

cara rasulullah merayakan idul fitri dan tradisi lebaran di indonesia

Lebaran Idul Fitri 

Idul Fitri, atau yang juga dikenal sebagai 'Lebaran', adalah hari raya terbesar dan termeriah bagi umat Islam di Indonesia. Hal ini memang sedikit berbeda dengan sebagian besar negara-negara Islam lainnya, yang mana hari perayaan terbesar bagi mereka adalah Idul Adha.

Tahukah kamu, kapan Idul Fitri pertama kali dirayakan? Merujuk pada buku "How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?", Rasulullah SAW beserta para Sahabat dan umat Islam pertama kali menggelar perayaan Hari Raya Idul Fitri pada tahun ke-2 Hijriyah (624 M), yaitu selang beberapa hari setelah Perang Badar (yang waktu kejadiannya adalah tanggal 17 Ramadhan).

Sejak saat itu Idul Fitri dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 1 Syawal (berdasarkan pada penanggalan hijriyah), yakni tepat setelah bulan Ramadhan itu usai, yang sekaligus menjadikan malam Idul Fitri menjadi momen penghujung yang mengakhiri Bulan Suci Ramadhan itu sendiri.

Secara bahasa, Idul Fitri berarti 'kembali suci' atau 'kembali ke kesucian'. Di samping itu, tidak sedikit pula yang mengartikan Idul Fitri sebagai Hari Kemenangan. Tentu saja kedua hal ini sangat berhubungan sekali.

Ibaratkan saja puasa Ramadhan adalah perang, maka Idul Fitri adalah kemenangannya: Setelah 30 hari atau sebulan penuh kita berjuang dan berperang, setelah perang itu usai dengan kesuksesan kita dalam menjalaninya, maka kita termasuk orang-orang yang meraih kemenangan (Idul Fitri) itu.

Dengan demikian, apakah kita akan mendapatkan predikat 'kembali suci'? Beberapa berpendapat: Ya, jika itu berdasarkan hubungan kita dengan Tuhan (habluminallah), sedangkan berdasarkan hubungan kita dengan sesama (habluminannas) menjadi urusan pribadi kita dengan yang bersangkutan.

Inilah yang menjadi alasan kenapa pada saat Lebaran (khususnya di Indonesia) kita berbondong-bondong melakukan Halalbihalal untuk saling meminta maaf dan saling memaafkan satu sama lain, yaitu supaya kita benar-benar layak untuk mendapatkan predikat 'kembali ke kesucian' yang seutuhnya.

Oh, iya. Tradisi Halalbihalal ini merupakan tradisi asli umat Muslim di Indonesia, lho. Sudah pada tahu belum seperti apa sejarahnya? Hmm.

Dan sudah selayaknya sebagai Hari Raya terbesar, umat Muslim di Indonesia merayakan Lebaran dengan menggelar berbagai macam perayaan, seperti takbiran di masjid atau mengadakan acara takbir keliling misalnya. Di samping itu, Lebaran juga telah membentuk tradisi dan budaya bagi Muslim Indonesia yang sangat khas, yaitu mudik atau pulang ke kampung halaman dengan tujuan untuk bersilaturahim dengan keluarga dan sanak saudara. Semua itu merupakan cara dan upaya umat Islam dalam menyambut dan merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Ya ... demikian setidaknya yang lumrah kita ketahui berdasarkan pada budaya dan tradisi yang lestari di negeri kita. Lantas, bagaimana dengan Rasulullah SAW? Bagaimana cara Rasulullah merayakan Hari Raya Idul Fitri? Apa saja yang dilakukan beliau di hari kemenangan nan fitri itu?

Cara Rasulullah SAW Merayakan Idul Fitri

Berdasarkan pada beberapa riwayat, disebutkan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam menyambut dan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Antara lain sebagai berikut:

1. Bertakbir

Cara Rasulullah SAW merayakan Idul Fitri yang pertama adalah dengan bertakbir. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadhan, yakni dimulai setelah sholat magrib hingga pagi hari menjelang sholat Id didirikan. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, yang berdasarkan interpretasi maknanya sebagai berikut:
"Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta (bertakbir) mengagungkan nama Allah atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur atas semua itu." [QS. 2:185]

2. Membayar Zakat Fitrah

Seperti yang kita tahu bahwa Zakat Fitrah menjadi jatuh tempo ketika matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan, dan banyak yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menunaikan zakat pada malam Idul Fitri tersebut. Terlebih lagi Rasulullah SAW juga telah memerintahkannya kepada kita, seperti halnya yang disampaikan oleh Ibnu Umar, bahwa:
Rasulullah SAW memerintahkan agar Zakat Fitrah harus dibayarkan sebelum orang-orang pergi keluar untuk Sholat Idul Fitri. [HR. Bukhari & Muslim]

3. Mandi Sunnah, Menggunakan Wewangian, dan Memakai Pakaian Terbaik

Hal ini didasarkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim, bahwa: Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah membersihkan diri dengan mandi, menggunakan wewangian, dan memakai pakaian terbaik yang dimilikinya.

4. Menyempatkan Makan Sebelum Berangkat ke Tempat Sholat Id

Sebelum berangkat menuju tempat sholat Idul Fitri, terlebih dahulu Rasulullah SAW menyempatkan untuk memakan kurma dengan jumlah yang ganjil, itu bisa 3, 5, atau 7. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis yang menyebutkan bahwa:
"Pada waktu Idul Fitri Rasulullah SAW tidak akan berangkat ke tempat shalat (Id) sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil." [HR. Ahmad & Bukhari]
*Dan sebagai catatan tambahan: Bahwa ada hari-hari tertentu di mana umat Muslim diharamkan untuk berpuasa, dan salah satunya adalah pada Hari Raya Idul Fitri. Dalam kitab-kitab fiqih bahkan disebutkan bahwa barang siapa berniat tidak puasa pada Hari Raya Idul Fitri itu, maka pahalanya seperti orang yang sedang berpuasa di hari-hari yang tidak dilarang.

5. Menunaikan Sholat Id Berjamaah

Dan tentu saja, Rasulullah SAW merayakan Idul Fitri dengan menunaikan sholat Idul Fitri berjamaah bersama dengan keluarga, Para Sahabat, dan segenap handai taulan—baik itu laki-laki, perempuan, pun anak-anak. Dari Ibnu Abbas RA berkata:
"Sesungguhnya Rasulullah SAW mengajak keluar seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya." [HR. Ibnu Majah & Bayhaqi]
Dan adapun hadis lain menyebutkan:
Kami memerintahkan untuk keluar (ketika Hari Raya), dan mengajak keluar wanita yang haid, para gadis, dan wanita pingitan. Adapun para wanita yang haid, mereka menyaksikan kegiatan kaum muslimin dan khutbah mereka, dan menjauhi tempat shalat. [HR. Bukhari & Muslim]

6. Mengambil Rute yang Berbeda saat Berangkat Sholat Id dan Pulangnya

Di samping itu, Rasulullah SAW juga memilih rute atau jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri. Hal ini didasarkan pada hadis:
"Apabila Nabi saw. pergi shalat hari raya, maka ketika pulang Beliau menempuh jalan yang berlainan dengan di waktu berangkatnya." [HR. Ahmad, Muslim, & Turmudzi]

Maksudnya bagaimana? Sesungguhnya mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang shalat Idul Fitri memiliki makna yang dalam. 

Pada masanya, Rasulullah SAW melakukan hal ini dengan tujuan ingin bertemu dengan orang-orang di sekitar perjalanan guna menyebarkan syiar Islam. Tapi masyarakat di tempat saya mayoritas Muslim, jadi tidak perlu lagi menyebarkan syiar Islam dengan melakukan hal-hal semacam itu.

Ya, meskipun mayoritas masyarakat di sekitar kita memeluk agama Islam, tidak ada salahnya jika kita melakukan sunnah tersebut. Kenapa? Salah satunya adalah untuk meramaikan jalan-jalan yang umumnya tidak pernah dilewati oleh kebanyakan orang karena berbagai alasan seperti jalan itu lebih jauh, atau terlalu memutar, jalannya jelek, sepi, dan lain sebagainya; maksudnya agar orang-orang yang tinggal di sekitar jalan itu juga merasakan semarak Idul Fitri. Ini sekaligus membuat kita agar semakin mengenali lingkungan kita, dll.

Dan usahakan untuk berjalan kaki bersama-sama dengan keluarga, seperti halnya yang dilakukan oleh Baginda Rasul. Cobalah ... dengan begitu, bisa jadi Anda nanti akan mendapatkan jawaban-jawaban yang tidak tersebutkan sebelumnya. Cobalah.

6. Bersilaturahim dan Mengucapakan Tahni'ah atau Ucapan Selamat Idul Fitri

Tradisi silaturahim dan saling mengunjungi pada saat hari raya Idul Fitri ternyata sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah SAW mengunjungi rumah para Sahabatnya, begitu pula sebaliknya. Pada kesempatan itu, Rasulullah SAW dan para Sahabat saling mendoakan kebaikan satu sama lain. 

Ali Hasan menjelaskan dalam kitab "Ahkamul Idain" bahwa Rasulullah SAW saling doa-mendoakan kepada sesama dengan mengucapkan:

مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ

Yang artinya: "Semoga kalian temasuk orang yang kembali suci (seperti bayi yang baru lahir) dan termasuk orang yang beruntung."

Atau juga bisa dengan mengucapkan kalimat seperi di bawah ini:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Yang artinya: "Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian."

Demikianlah cara Rasulullah SAW menyambut dan merayakan Idul Fitri. Bahwa beliau selalu dengan suka cita dalam menyambut dan merayakan Hari Raya umat Islam ini. Jadi, kita yang sebagai umatnya sudah sepatutnya untuk menirunya, bukan?

Lantas, bagaimana dengan tradisi yang ada di Indonesia?

Tradisi-Tradisi Lebaran (Idul Fitri) di Indonesia

Indonesia adalah negeri yang kaya akan tradisi dan budaya, demikian kaitannya dengan Idul Fitri. Dalam penyebutannya saja kita ada yang namanya Lebaran, ini baru satu contoh saja. 😆

Dan yang perlu kita ketahui adalah, bahwa tradisi-tradisi Lebaran (Idul Fitri) yang disebutkan di bawah ini merupakan tradisi asli dari Indonesia. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Halalbihalal

Sangat familiar dengan satu ini, bukan? 

Ada yang tahu apa itu Halalbihalal? Hmm .... Halalbihalal itu yang begini, lho .... Halalbihalal itu yang seperti ini .... Ya! Kebanyakan dari kita tahu apa itu Halalbihalal, tetapi susah untuk menjelaskan atau menguraikannya—karena pada dasarnya sebagian besar orang hanya tahu praktiknya saja.

Perlu digarisbawahi, bahwa untuk mengartikan Halalbihalal tidak bisa dilakukan secara bahasa, karena pada dasarnya Halalbihalal lahir dari aspek kulutural masyarakat Indonesia sendiri. Jadi, jika ada yang mengartikan Halalbihalal dengan mengacu pada bahasa Arab, maka artinya tidak akan sesuai dengan maksud dan tujuan dari Halalbihalal itu sendiri.

Jadi, jangan memaknai Halalbihalal secara bahasa melainkan dari segi kulturalnya: Yaitu budaya saling memaafkan dengan saling berkunjung ke rumah saudara (silaturrahim) guna memohon dan memberi maaf yang diteruskan dengan saling berjabatan tangan.

2. Mudik

Seperti yang telah disampaikan secara singkat di atas, tradisi mudik atau pulang kampung terlahir atas latar belakang untuk menyambut dan merayakan Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

Dan karena di Indonesia Idul Fitri adalah hari libur keagamaan (dan cuti bersama)—bisa diartikan sebagai libur panjang, maka momen inilah yang dimanfaatkan oleh umat Muslim di Indonesia untuk berbondong-bondong pulang ke kampung halaman masing-masing. Sebenarnya yang beragama selain Islam pun juga mengikuti tradisi ini.

Bisnis hampir berdiri diam di Indonesia selama hari-hari ini, dan Jakarta, pusat politik dan ekonomi Indonesia, telah menjadi kosong setelah jutaan orang kembali ke kampung halamannya menjelang Idul Fitri (ini dikenal sebagai tradisi mudik tahunan atau mudik lebaran). Demikian halnya dengan kota-kota besar lainnya.

Mudik umumnya dilakukan oleh mereka-mereka yang merantau atau tinggal di kota-kota besar untuk pulang atau kembali ke kampung halaman masing-masing agar dapat merayakan Lebaran dan berkumpul bersama dengan handai taulan. Di samping itu, ada pula yang mudik dengan tujuan agar bisa nyekar atau nyadran ke makam orangtua atau keluarga.

Secara tradisional, umumnya orang mulai mudik tiga atau empat hari sebelum Idul Fitri dan selalu menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah di sekitar Jakarta karena kurangnya kualitas dan kuantitas infrastruktur yang terkenal di negara ini. Setidaknya demikian yang terjadi beberapa tahun belakangan. Tapi entah dengan mudik di tahun ini, yang mana pemerintah telah melakukan berbagai upaya terkait hal ini. Kita lihat saja ....


3. Sungkem

Sungkem adalah tradisi masyarakat Jawa yang ditujukan untuk meminta maaf atau pengampunan di Hari Raya Idul Fitri dengan menunjukkan rasa hormat yang diberikan oleh yang lebih muda kepada para sesepuh di dalam keluarga. Caranya bagaimana? Orang yang lebih muda (seperti saya) berlutut dan menundukkan kepala ke lutut orangtua (yang posisinya sedang duduk) dan meminta pengampunan ... yang kerap kali menjadi haru biru karena tetesan airmata. 

Saya sendiri menyebutnya sebagai momen sakral lebaran. Renungkan saja, dalam setahun, berapa kali kita yang sebagai anak ini meminta maaf kepada orangtua kita? 

4. Nyekar

Nyekar ialah tradisi ziarah makam di kalangan Muslim Jawa dengan subjek ziarahnya merupakan makam leluhur keluarga seperti kakek-nenek, orangtua, dan saudara.

Nyekar berasal dari kata Jawa sekar yang artinya kembang atau bunga. Dalam praktiknya, memang ziarah ini (umumnya) melibatkan penaburan bunga di atas makam yang dikunjungi.

Di dalam nyakar, yang pasti dan umum terjadi adalah besik atau membersihkan makam serta pembacaan himpunan doa atau bagian dari surat Al-Qur'an seperti Surat Yasin dan tahlil misal.

Nyekar tidak harus pada momen Ramadhan dan Lebaran saja, nyekar bisa dilakukan kapan pun sepanjang tahun. Namun pemakaman-pemakaman akan menjadi ramai dengan kemacetan di area parkirnya ketika menyambut Ramadhan dan sore hari di akhir Ramadhan. Dan beberapa ada yang melakukannya setelah sholat Id. Lho, ada?

Ya ... seperti saya yang bapak dan ibu saya masih hidup, tentu masih bisa bertemu langsung untuk sungkem atau meminta maaf dan lain sebagainya. Nah, bagaimana dengan mereka yang bapak-ibunya sudah tak ada? Itulah kenapa mereka datang untuk nyekar setelah sholat Id; karena mereka tidak bisa tidak bisa mencium kaki bapak-ibu mereka, melainkan hanya mampu untuk mendoakan.

• • •

Tradisi-tradisi Lebaran di atas memang hanya beberapa saja, namun setidaknya itu yang paling umum kita temui di negeri kita. Dan, ya, memang masih ada lagi tradisi-tradisi dalam menyambut dan merayakan Lebaran yang tidak tersebutkan; seperti ramai-ramai berkumpul di pertigaan depan Balai Desa untuk menyulut petasan-petasan yang segedhe paha orang misal .... Ya, seperti itulah potret kampung halaman saya dan sekitarnya. 😫

Salam.

Ahmad Ali Buni

No comments:

Post a Comment

SUBSCRIBE