Menggapai Lailatul Qadar: Malam Seribu Bulan [#7]

By Ahmad Ali Buni - 5/11/2019

lailatul qadar, malam seribu bulan

Di antara waktu yang Allah SWT istimewakan dengan karunia dan kemuliaan yang melimpah adalah Bulan Suci Ramadhan. Terlebih pada sepuluh hari yang terakhir—yang juga dikenal sebagai Ashra ketiga, yang mana di dalamnya terdapat satu malam yang paling istimewa: Lailatul Qadar.

Lantas, sebenarnya apa yang membuat malam ini begitu istimewa, dan kapan itu terjadi? Mari kita belajar bersama.

Apa itu Lailatul Qadar?

Berbicara tentang Lailatul Qadar mengharuskan kita berbicara tentang surat Al-Qadr:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." [QS. 97:1-5]
Dari surat di atas kita mendapati bahwa Lailatul Qadar adalah malam kemulian, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan seterusnya. Setidaknya inilah yang umumnya kita semua ketahui tentang apa itu Lailatur Qadar.

Surat Al-Qadr ini sendiri adalah surat yang ke-97 menurut urutannya dalam Mushaf. Ia ditempatkan sesudah surat Iqra'. Para ulama Al-Qur'an menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra'. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat Al-Qadr turun setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah.

Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah SWT, dan dari perurutannya ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.

Kalau dalam surat Iqra' Rasulullah SAW (demikian pula kaum Muslim) diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu antara lain adalah Al-Qur'an, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat Al-Qadar ini berbicara tentang turunnya Al-Qur'an, dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzulul Qur'an.

Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya adalah Lailatul Qadar, suatu malam yang oleh Al-Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Tetapi apa dan bagaimana malam itu? Apakah malam itu hanya terjadi sekali saja yakni pada malam ketika turunnya Al-Qur'an lima belas abad yang lalu, atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang masa?

Dan bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam, dan menunduknya pepohonan dan lain sebagainya)?

Bahkan masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam Lailatul Qadar itu.

Yang pasti dan harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur'an bahwa: Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar, dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan.

Kembali kepada pertanyaan semula, apa itu Lailatul Qadar? Apa arti Lailatul Qadar, dan mengapa malam itu dinamai demikian? Semoga di sini dapat ditemukan jawabannya.

Arti Kata Qadar

Menurut Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A., dalam bukunya yang berjudul WAWASAN AL-QUR'AN – Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, kata Qadar sendiri paling tidak memiliki tiga arti, yaitu:

1. Penetapan dan Pengaturan 

Penggunaan dan arti kata Qadar yang pertama adalah 'Penetapan' dan 'Pengaturan', sehingga Lailatul Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah SWT bagi perjalanan hidup manusia.

Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Allah SWT dalam surat Ad-Dukhan ayat 3–5 sebagaimana berikut:
"Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami." [QS. 44:3]
—Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. Al-Qur'an yang turun pada malam Lailatul Qadar, diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan 'khiththah' dan strategi bagi utusan-Nya (Muhammad SAW), guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai individu maupun kelompok.

2. Kemuliaan

Malam Lailatul Qadar adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur'an, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata Qadar yang berarti mulia ditemukan dalam surat Al-An'am ayat 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Dan mereka tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia ...." [QS. 6:91]

3. Sempit

Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena saking banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr yang ada di atas, bahwa "pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

Kata Qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara 1ain dalam surat A1-Ra'd ayat 26:
"Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)." [QS. 13:26]
Ketiga arti tersebut pada hakikatnya dapat menjadi benar, karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia?—yang bila diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan.

Namun demikian, sebelum kita melanjutkan bahasan tentang Laitatul Qadar, maka terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang kehadirannya adakah setiap tahun atau hanya sekali, yakni ketika turunnya Al-Qur'an lima belas abad yang lalu?

Kehadiran Lailatul Qadar

Kapan Lailatul Qadar itu Hadir dan Siapa yang Dapat Memperolehnya?

Dari Kitab Suci Al-Qur'an kita menemukan penjelasan bahwa wahyu-wahyu Allah itu diturunkan pada Lailatul Qadar. Akan tetapi, karena umat sepakat mempercayai bahwa Al-Qur'an telah sempurna dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Baginda Rasul Muhammad SAW, maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh malam tersebut adalah karena ia terpilih menjadi waktu turunnya Al-Qur'an.

Pakar hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa malam Qadar sudah tidak akan datang lagi.

Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada teks ayat Al-Qur'an, serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada
setiap bulan Ramadhan. Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwa dan raga dalam menyambut malam yang mulia itu, secara khusus pada malam-malam ganjil dalam 10 hari terakhir bulan Ramadhan—sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4/225) dan Muslim (1169):
Dari 'Aisyah yang mengatakan: "Rasulullah SAW beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan."" [HR. Bukhari  & Muslim ]
Memang turunnya Al-Qur'an lima belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailatul Qadar, tetapi itu bukan berarti bahwa ketika itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Qur'an ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri.

Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata kerja mudhari' (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada
masa kini dan masa datang.

Nah, apakah bila Lailatul Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu? Tidak sedikit umat Islam yang menduganya demikian. Namun dugaan yang seperti itu menurut Quraish Shihab keliru, karena hal itu dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak.

Di sisi 1ain berarti bahwa kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang bersifat fisik-material, sedangkan riwayat-riwayat demikian, tidak dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya.

Seandainya, sekali lagi seandainya, ada tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya.

Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu dan bertemu. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailatul Qadar tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja.

Ibaratkan saja tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di sana mendambakannya. Dan bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tidak sudi mampir menemuinya?

Demikian juga dengan Lailatul Qadar.

Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasulullah SAW datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Kenapa?

Karena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya Rasulullah SAW menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailatul Qadar datang menemui seseorang, ketika itu, malam kehadirannya menjadi saat Qadar dalam arti, saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang.

Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian. *Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!*

Turunnya Malaikat di Lailatul Qadar

Syekh Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. Syekh 'Abduh memberi ilustrasi berikut:

Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.

Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedang yang membisikkan keburukan adalah setan atau paling tidak, kata 'Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat atau setan.

Turunnya malaikat pada malam Lailatulul Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya, menjadikan yang bersangkutan akan selalu disertai oleh malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan dia sendiri akan selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailatul Qadar saja, tapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.

Amalan yang Dianjurkan untuk Menyambut Lailatul Qadar

Di atas telah di kemukakan bahwa Rasulullah menganjurkan sambil mengamalkan i'tikaf di masjid dalam rangka perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci. Segala aktivitas kebajikan bermula di masjid. Di masjid pula seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya, serta dapat menghindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengkayaan iman.

Itu sebabnya ketika melaksanakan i'tikaf, dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Qur'an, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.

Malam Qadar yang ditemui atau yang menemui Rasulullah SAW pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Ar-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Karena itu pula beliau mengajarkan kepada umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailatul Qadar itu, antara lain adalah melakukan i'tikaf.

Walaupun i'tikaf dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja—bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i, walau sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci—namun Rasulullah SAW selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa.

Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah Doa Sapu Jagad (demikian Muslim Jawa menamainya):
"Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka." [QS. Al-Baqarah; 201]
Doa ini bukan sekadar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan yang dimaksud; karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha.

Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Tanda-Tanda Kehadiran Lailatul Qadar

Adapun menyangkut tanda alamiah, maka Al-Qur'an tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal tersebut, tetapi hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal melakukan penyaringan yang cukup ketat terhadap hadis Rasul Muhammad SAW.

Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut: "Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar."

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan: "Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas ...."

Hadis-hadis di atas dapat diperselisihkan keshahihannya, dan karena itu kita dapat berkata bahwa tanda yang paling jelas tentang kehadiran Lailatul Qadar bagi seseorang adalah kedamaian dan ketenangan.

Semoga malam mulia itu berkenan mampir menemui kita. Amin.



Source:

  • Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Wawasan Al-Qur'an – Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Penerbit: Mizan.
  • The 'Splainer: "What is Laylat al-Qadr, Muslims, Night of Destiny?" https://religionnews.com/2017/06/20/the-splainer-what-is-laylat-al-qadr-muslims-night-of-destiny/
  • Qur'an, Surat, dan Tafsir: https://risalahmuslim.id/

  • Share:

You Might Also Like

0 comments