Ramadhan, Bulan Pengampunan: Saat Tepat Bertaubat [#3]

By Ahmad Ali Buni - 5/07/2019

ramadhan, saat tepat bertaubat

Kemuliaan dan keistimewaan bulan Ramadhan telah kita sadari. Di dalamnya ada rahmat, keberkahan, kebaikan, keselamatan, ampunan yang tak terhingga, pahala yang berlipat ganda, dan kenikmatan yang berlimpah ruah.

Karena itu, Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabdanya:
"Seandainya manusia mengetahui kebaikan dan keistimewaan yang ada di bulan Ramadhan, maka mereka akan menginginkan seandainya seluruh bulan yang ada (dalam setahun) menjadi bulan Ramadhan." [HR. Ibnu Khuzaimah]
Semangat berlomba-lomba dalam ibadah dan kebaikan menjadi ciri khas dari bulan Ramadhan. Secara umum, kecenderungan kaum muslimin meningkatkan ibadahnya sangat tinggi di bulan suci ini, dibandingkan bulan-bulan yang lain.

Orang awam pun berlomba-lomba meningkatkan ibadahnya, seperti: memakmurkan masjid, bersedekah, melaksanakan tarawih, memberikan buka puasa, menambah sholat sunnah, dan lain sebagainya.

Semangat beribadah dan melakukan berbagai kebaikan belum sempurna bila seseorang belum memiliki kepedulian terhadap usaha menghindari perangkap-perangkap dosa. Bahkan, memelihara dan menjaga diri dari dosa dan menjauhkan diri dari segala perangkap-perangkapnya, sangat besar keutamaannya di sisi Allah SWT.

Di samping menyediakan banyak peluang ibadah dan kebaikan, bulan Ramadhan juga membuka lebar-lebar pintu untuk menjauhkan diri dari maksiat dan dosa. Upaya menjauhkan diri dan membersihkan diri dari dosa dan maksiat tidak terlepas dari keharusan orang bertaubat dan membersihkan diri dari segala yang pernah menjerumuskannya ke dalam dosa dan maksiat: Itulah istighfar dan taubat.

Urgensi Taubat

Sebagai manusia biasa, setiap dari kita pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Kenyataan ini mengharuskan setiap orang mengoreksi diri dan kembali bertaubat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW saja, yang telah dibebaskan dari dosa, selalu beristighfar dan bertaubat tidak kurang dari tujuh puluh kali setiap harinya. Dalam riwayat lain, seratus kali (HR. Bukhari & Muslim).

Dalam kitab suci, al-Quran, terdapat banyak sekali ayat-ayat tentang pentingnya bertaubat. Di antaranya:
"Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah SWT, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian meraih kemenangan." [QS. an-Nur; 30]
Ayat di atas diturunkan di Madinah kepada generasi terbaik umat ini, dari Muhajirin dan Anshar. Bahwa, bila mereka ingin meraih kemenangan, kejayaan, dan kebahagiaan, maka harus dengan syarat bertaubat. Padahal, mereka telah mempersembahkan segalanya untuk perjuangan iman melawan siksaan dan intimidasi kaum kafir Quraisy, menghadapi segala rintangan dan penderitaan dalam berhijrah, dan menghadapi kilatan pedang, serangan musuh, dan ancaman syahid dalam berjihad di medan perang.

Ayat di atas seolah-olah menyatakan bahwa tidak cukup hanya dengan beriman, berhijrah, dan berjihad saja untuk mencapai kemenangan. Tetapi, harus pula dengan banyak bertaubat.

Ayat lain menyatakan hakikat yang lebih menggetarkan hati: Allah SWT berfirman:
"Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka pasti orang-orang yang zalim." [QS. al-Hujarat; 11] 

Kewajiban Taubat dan Keutamaannya

Jadi, ada sebuah kisah yang indah tentang taubat:

Wahsyi, pembunuh Hamzah, paman tersayang baginda Rasul SAW. Pernah ragu untuk masuk Islam karena takut dosanya tidak akan terampuni dan taubatnya tidak diterima oleh Allah SWT. Namun, setelah mendapat jawaban dari Rasulullah SAW, berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an, tanpa ragu ia masuk Islam dan bertaubat menuju Madinah. Dari Abbas RA berkata:

Sesungguhnya Wahsyi, pembunuh Hamzah RA, paman Rasulullah SAW, menulis surat kepada Rasulullah SAW dari Mekkah, yang menyebutkan bahwa: "Sesungguhnya aku ingin masuk Islam, namun yang menjadi penghalangku dari masuk Islam adalah ayat al-Qur'an yang turun kepada Anda, yaitu firman Allah SWT:
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah SWT dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)." [QS. al-Furqon; 68] 
Aku telah melakukan tiga perkara itu. Sekarang apakah aku berpeluang untuk bertaubat?"

Kemudian turunlah firman Allah SWT yang bunyinya:
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah SWT dengan kebajikan. Dan adalah Allah SWT Maha pengampun lagi Maha penyayang." [QS. al-Furqon; 70]
Rasulullah SAW pula membalas surat Wahsyi dengan ayat itu.

Kemudian Wahsyi kembali menulis surat lagi yang isinya menyebutkan tentang syarat taubat, yaitu beramal saleh; "dan aku tidak tahu apakah aku dapat melakukan amal saleh atau tidak?"

Kemudian turun firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Allah SWT tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah SWT, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." [QS. an-Nisa; 116] 
Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu.

Wahsyi mengirimkan surat lagi, yang isinya menyebutkan tentang syarat taubat yang juga terdapat dalam ayat tersebut; "dan aku tidak tahu apakah aku mendapatkan ampunan atau tidak?"

Kemudian turun firman Allah SWT:
"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Az-Zumar; 24]
Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat tersebut.

Dari balasan surat yang terakhir ini, Wahsyi tidak lagi melihat adanya syarat dalam ayat tersebut, maka dia pun bertolak menuju Madinah dan masuk Islam.

Keadilan dan kebijakan Allah SWT menentukan bahwa setiap anak cucu Adam berdosa, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat." [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, & Al-Hakim]
Namun Allah SWT tidak Zalim terhadap manusia. Ketika mereka berpeluang untuk bersalah, maka Allah SWT membuka lebar-lebar pintu untuk membersihkan dosa-dosanya. Oleh karena itu, Allah SWT telah mewajibkan taubat atas setiap hamba-Nya. Allah SWT berfirman:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah SWT, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah SWT? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedan mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." [QS. Ali Imran; 133-136]
Rasulullah SAW mengumpamakan keutamaan taubat dalam hadisnya mengenai diri beliau sendiri:
"Aku adalah Nabi taubat dan Nabi yang penuh kasih sayang." [HR. Muslim]


Tidak ada kata kata telat dalam bertaubat, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh pengampunan ini; inilah momen yang paling tepat untuk kembali mendekatkan diri dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Dan pada akhirnya, semoga dosa-dosa kita diampuni. Amin.


Source: Kuliah Subuh Ramadhan #3 oleh Drs. H. Moh. Isa Anwari Bah

  • Share:

You Might Also Like

0 comments