2 Mei, Hari Pendidikan Nasional: Sejarah dan Makna Di Balik HARDIKNAS

By Ahmad Ali Buni - 5/02/2019

2 mei, hari pendidikan nasional: sejarah dan makna di balik hardiknas

Di Indonesia, setelah masyarakat menikmati hari libur untuk memperingati Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei, maka hari selanjutnya (2 Mei) diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hanya saja, bedanya tanggal 2 Mei tidak ditetapkan sebagai hari libur seperti May Day yang lumrahnya ditandai dengan warna merah pada kalender yang menempel di dinding rumah kita. 

Terutama di dunia pendidikan, pada setiap tahunnya seluruh masyarakat Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional dengan menggelar upacara bendera di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, dari tingkat kecamatan hingga pusat, yang disertai dengan penyampaian pidato dengan tema pendidikan oleh pejabat terkait. Tapi tahukah kamu kenapa tanggal 2 Mei ini sampai harus diperingati dengan menggelar sebuah upacara bendera? 

Bahwa selain untuk tetap memelihara nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme, tetapi juga sebagai pengingat akan sejarah dan makna di balik Hari Pendidikan Nasional itu sendiri. Seperti apa sejarahnya? Makna apa yang ada di baliknya? Untuk mengetahuinya, mari sejenak bersama-sama kita menengok ke belakang untuk melihat sebuah rekam jejak yang semoga saja dapat kita ambil hikmahnya sebagai suatu pembelajaran ....

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Hari Pendidikan Nasional, atau yang biasa disingkat dengan HARDIKNAS, adalah hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 2 Mei. Berbicara tentang Hari Pendidikan Nasional tentu tidak akan terlepas dari sosok seorang tokoh nasional yang berjasa di dalamnya, siapa lagi kalau bukan Ki Hadjar Dewantara. Bahkan, ditentukannya 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional bertepatan dengan hari lahirnya Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dinobatkan dan dihormati sebagai bapak pendidikan nasional. Tapi siapakah sebenarnya Ki Hadjar Dewantara itu? Mari mengenalnya lebih dekat.

Ki Hadjar Dewantara

bapak pendidikan nasional - ki hadjar dewantara

Ki Hadjar Dewantara, demikian nama atau panggilan yang akrab di telinga kita. Ia lahir dari keluarga bangsawan Kadipaten Pakualaman, 2 Mei 1889 dengan ama asli 'Raden Mas Soewardi Soerjaningrat'; yang selanjutnya disingkat sebagai 'Soewardi'—pada Tetralogi Buru karya Pram sering di sebut sebagai 'Wardi' atau 'Mas Wardi'. Ia adalah seorang aktivis pergerakan kemerdekaan, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para penduduk pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya yang diperoleh para priyayi, orang kaya, dan warga Belanda.

Masa Muda

Pada masa mudanya, Soewardi termasuk dari sedikit kaum pribumi yang berpendidikan. Karena merupakan keturunan seorang bangsawan, ia dapat mengenyam pendidikan yang pada saat itu merupakan hak istimewa untuk kaum-kaum tertentu saja. Sempat juga melanjutkan pendidikan di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi  karena sakit ia jadi tidak dapat menamatkan pendidikannya tersebut. Soewardi muda kemudian bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain seperti; Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal dengan ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh penulis lainnya. Tulisan-tulisannya komunikatif namun tajam, dan tentu saja dengan semangat antikolonial yang menjadi jiwa pada setiap tulisan-tulisannya. Dari sinilah kiprah tokoh utama kita ini mulai menyita perhatian gubermen.

Di sisi lain, selain sebagai seorang penulis dan wartawan muda yang giat dan ulet, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik pada masanya. Sejak berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908, ia aktif sebagai salah satu seksi propaganda untuk mensosialisasikan dan membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia (terutama di Jawa) mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama Budi Oetomo di Yogyakarta juga berkat andilnya.

Atas pengaruh dari Ernest Douwes Dekker Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, sebuah organisasi multi-etnik yang anggotanya didominasi oleh kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Dan Indische Partij—partai politik pertama di Hindia Belanda yang anggotanya merupakan orang-orang pribumi dan eropayang didirikannya bersama Douwes Dekker Tjipto Mangoenkoesoemo; karenanya mereka bertiga kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Soewardi muda sangat dikenal dan begitu menyita perhatian gubermen karena keberaniannya dalam menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda, yang pada masa itu; hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda, orang kaya, dan kaum bangsawan saja yang dapat mengenyam bangku pendidikan. Diskriminasi dan ketidakadilan ini pula yang menjadi salah satu bara penggerak dalam segala sepak terjang Soewardi muda.

Salah satu tulisannya yang sangat terkenal adalah "Als Ik Een Nederlander Was" atau yang jika diterjemahkan dalam Bahasa berarti "Andai Aku Seorang Belanda" yang dimuat oleh De Expres (surat kabar yang dipimpin oleh Douwes Dekker) pada tanggal 13 Juli 1913. Sedikit kutipan kolom tersebut yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Dari kutipan kolom yang ditulis oleh Soewardi di atas jelas sekali terasa sangat pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda pada saat itu. Dan sebagai akibat dari tulisannya ini pula ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Begitu juga dengan kedua rekannya (Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo) yang memprotes keputusan tersebut yang pada akhirnya membuat mereka bertiga diasingkan ke negeri Belanda pada tahun yang sama. Pada saat itu usia Soewardi baru berusia 24 tahun. Begitu muda.

Dalam Pengasingan

Dalam pengasingannya di Belanda, Soewardi muda aktif dalam organisasi para pelajar asal Hindia, Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia. Dan pada tahun 1913 dia mendirikan Indonesisch Pers-bureau atau Kantor Berita Indonesia. Inilah penggunaan formal pertama dari istilah atau nama "Indonesia" yang diciptakan pada tahun 1850 oleh ahli bahasa asal Negeri Ratu Elisabeth; George Windsor Earl, dan pakar hukum asal Skotlandia; James Richardson Logan.

Di sini pula kemudian timbul cita-cita mulia Soewardi muda untuk memajukan kaumnya dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta (suatu ijazah pendidikan yang bergengsi) yang kelak menjadi pondasinya dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya itu pula Soewardi mendapatkan banyak pengaruh dari tokoh-tokoh pendidikan barat serta pergerakan yang ada di India, pengaruh-pengaruh tersebutlah yang mendasari Soewardi dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Taman Siswa

Sekembalinya dari pengasingan, yaitu pada September 1919, Soewardi kemudian bergabung dalam sekolah yang dibina oleh saudaranya untuk menjadi seorang pengajar. Dan karena pengalamannya dalam mengajar tersebut kemudian ia mulai mengembangkan konsep mengajar dalam lembaga pendidikan yang ia dirikan pada 3 Juli 1922; Taman Siswa

Pada tahun yang sama pula, pada usianya yang ke-40 (berdasarkan penanggalan Jawa), barulah ia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi "Ki Hadjar Dewantara". Dengan mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara ia bermaksud untuk tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanannya (Raden Mas) supaya ia bisa bebas dekat dan berbaur dengan rakyat; baik secara fisik maupun jiwa.

Pengabdian Ki Hadjar Dewantara tidak hanya sampai disitu saja. Setelah negeri ini merdeka, ia diangkat sebagai menteri pendidikan dalam kabinet Republik Indonesia yang pertama. 

Ki Hadjar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959. Oleh Presiden Soekarno, untuk menghormati semua jasa besarnya terhadap dunia pendidikan Indonesia, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional yang ditetapkan melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Bahkan, filosofi Ki Hadjar Dewantara dalam konsep pendidikan yang digunakannya; "Ing ngarsa sun tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan); masih sangat dikenal dan dipakai hingga sekarang dalam dunia pendidikan kita. 

Makna Di Balik Diperingatinya 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional

Dari sejarah sebelumnya kita jadi tahu (setidaknya sedikit) kenapa pada setiap tahunnya tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Apakah hanya untuk mengenang dan sebagai penghormatan atas jasa-jasa Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan kita? Tentu saja tidak. Terlebih bagi kaum terpelajar seperti para pembaca sekalian.

*Entah ini penting atau tidak, tetapi saya pribadi dari awal selalu menganggap bahwa pembaca saya adalah seorang yang terpelajar seperti halnya kalian; kaum milenial.*

Bagi pemerintah dan atau pejabat yang terkait, peringatan HARDIKNAS hendaknya dapat dijadikan sebagai momen untuk mengoreksi kekurangan-kekurangan yang ada dalam sistem dan kebijakan pendidikan yang ada. Karena inilah saatnya bagi kita untuk berbenah. Dan puji syukur, hal itu telah menjadi perhatian dan alasan para pemimpin dan wakil-wakil kita di sana untuk terus bekerja dalam memajukan dunia pendidikan kita. Dan semoga akan terus seperti itu.

Dan bagi kita semua, para milenial dan kaum terpelajar pada umumnya, baik yang hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar maupun yang merupakan lulusan perguruan tinggi, sudah sampai mana andil kita dalam masyarakat? Sebesar apa sumbangsih yang telah kita berikan pada masyarakat kita? Sejauh mana pengaruh kita sebagai agen perubahan di kehidupan masyarakat kita? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu lah yang mestinya kita renungkan sekarang. 

Sebagai seorang terpelajar, sudah sewajarnya kita sadar akan kelebihan yang ada pada kita; bahwa ada tugas mulia yang akan selalu melekat dalam diri dan jiwa kita. Bahwa hidup kita ini tidak sekadar hanya untuk terlahir, berkerja, dan mati. Bahwa sejatinya hidup kita ini tidak untuk kita sendiri. Apakah kata-kata saya ini terlalu berat untuk dimengerti dan dijalani? Saya rasa tidak.

Sebagai petunjuk dan pengingat, ada baiknya jika kita turut mengambil filosofi Ki Hadjar Dewantara dan kita patri-kan dalam laku hidup kita sebagai seorang terpelajar: 

"Ing ngarsa sun tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani."

Memahaminya dan me-lakon-kan-nya. Itulah tugas kita.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments