1 Mei: Sejarah Hari Buruh Internasional dan May Day di Indonesia Saat Ini

By Ahmad Ali Buni - 5/01/2019

may day

Sejak ribuan tahun yang lalu, May Day diperingati setiap tahunnya pada 1 Mei dengan sejarah panjang dan beragam. Selama bertahun-tahun, ada banyak acara dan perayaan yang berbeda di seluruh dunia, sebagian besar dengan tujuan yang jelas untuk menyambut perubahan musim (musim semi di belahan bumi utara). Namun pada abad ke-19, May Day mulai diperingati dengan mengambil makna baru, yaitu ketika Hari Buruh Internasional tumbuh dari gerakan abad ke-19 untuk hak-hak buruh dan hari kerja delapan jam di Amerika Serikat.

Mungkin sampai sekarang masih ada yang menghubung-hubungkan May Day 'Hari Buruh' dengan dengan kode panggilan marabahaya internasional 'Mayday, Mayday, Mayday', tapi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Karena pada sejarahnya; kode ini ditemukan pada tahun 1923 oleh petugas radio bandara di London. Karena diharuskan untuk dapat menghasilkan kata yang mudah dipahami oleh para pilot dan staf darat jika terjadi suatu keadaan darurat, Frederick Mockford menciptakan kata Mayday karena terdengar seperti m'aider, yaitu versi singkat dari istilah Prancis yang artinya "datang dan bantu aku!" Jadi jelas, kan?

Sejarah Hari Buruh Internasional

Koneksi antara May Day dan hak-hak buruh dimulai di Amerika Serikat. Selama abad ke-19, di puncak Revolusi Industri, ribuan pria, wanita dan anak-anak meninggal setiap tahun karena kondisi kerja yang buruk dan jam kerja yang panjang. Pada masa itu, para pekerja diharuskan dan dipaksa untuk bekerja selama 19 – 20 jam dari total 24 jam waktu yang ada dalam sehari. Ya, benar! Rodi. Kita yang bangsa Indonesia ini tentu sangat familiar dengan sejarah kelam semacam ini.

Dalam upaya untuk mengakhiri kondisi yang tidak manusiawi ini, The Federation of Organized Trades and Labor Unions (yang nantinya akan menjadi American Federation of Labor atau AFL) mengadakan konferensi di Chicago pada tahun 1884. FOTLU menyatakan bahwa: delapan jam merupakan hari kerja resmi dari dan setelah 1 Mei 1886. 
8 jam ini sendiri diambil berdasarkan pembagian waktu 24 jam sehari menjadi: 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk beristirahat, dan 8 jam untuk rehat maupun untuk melakukan hal-hal lain.

Pada tahun berikutnya, Ksatria Buruh—organisasi buruh terbesar di Amerika pada saat itu—mendukung proklamasi ketika kedua kelompok mendorong pekerja untuk mogok dan berdemonstrasi.

Pada 1 Mei 1886, lebih dari 300.000 pekerja (40.000 di Chicago) dari 13.000 bisnis keluar dari pekerjaan mereka di seluruh negeri. Pada hari-hari berikutnya, lebih banyak pekerja bergabung dan jumlah pemogok bertambah menjadi hampir 100.000 pekerja.

Kerusuhan Haymarket

Secara keseluruhan, protes itu berjalan damai dan tertib, tetapi semuanya berubah pada 3 Mei. Polisi dan pekerja Chicago bentrok di McCormick Reaper Works. Hari berikutnya, sebuah demonstrasi direncanakan di Haymarket Square untuk memprotes pembunuhan dan beberapa pekerja yang terluka oleh polisi.

Sang pembicara, August Spies, mulai mereda ketika sekelompok petugas datang untuk membubarkan kerumunan. Ketika polisi maju, seorang individu yang tidak pernah diidentifikasi melemparkan bom ke dalam barisan mereka. Kekacauan pun terjadi, dan setidaknya tujuh petugas polisi dan delapan warga sipil tewas akibat kekerasan hari itu.

The Haymarket Riot atau Kerusuhan Haymarket telah memicu gelombang represi nasional. Pada bulan Agustus 1886, delapan orang yang dicap sebagai anarkis dihukum dalam persidangan sensasional nan kontroversial meskipun tidak terdapat bukti kuat yang menghubungkan para terdakwa dengan peristiwa pengeboman tersebut. Hakim dianggap bias, dengan ikatan bisnis besar. Pengadilan ini telah memutuskan: tujuh orang terpidana menerima hukuman mati, dan yang kedelapan dijatuhi dengan hukuman 15 tahun penjara. Pada akhirnya, empat orang digantung, satu mengakhiri hidupnya sendiri, dan tiga lainnya diampuni enam tahun kemudian.

Beberapa tahun setelah peristiwa Kerusuhan Haymarket dan persidangannya yang mengejutkan dunia, koalisi sosialis dan partai buruh yang baru dibentuk di Eropa menyerukan demonstrasi untuk menghormati 'Martir Haymarket'. Pada tahun 1890, lebih dari 300.000 orang memprotes pada aksi demonstrasi May Day di London.

Sejarah pekerja pada 1 Mei akhirnya dipeluk oleh banyak pemerintah di seluruh dunia, bukan hanya mereka yang memiliki pengaruh sosialis atau komunis.

May Day Di Indonesia Saat Ini

Di Indonesia sendiri Hari Buruh baru ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak 2013. Beragam kegiatan dilakukan oleh masyarakat untuk merayakan hari libur yang jatuh di awal bulan Mei ini, namun tetap yang paling melekat dalam kepala kita tentang May Day adalah aksi demonstrasi.

Setiap tahunnya, ratusan ribu pekerja melakukan aksi turun ke jalanan untuk menyuarakan aspirasinya kepada pemerintah seperti; mengkritisi kebijakan yang dianggap kurang pas atau merugikan kaum buruh, memberikan masukan perihal keadilan dan kesejahteraan bagi kaum buruh, atau bahkan menuntut untuk dinaikkannya upah minimal dan lain sebagainya.

Terlebih lagi untuk tahun 2019 ini, yang mana disebut sebagai tahun politik, bau pemilu juga masih melekat, May Day yang ada pada tahun ini tentu akan sangat berbeda dengan May Day yang sebelum-sebelumnya. Dan inilah hal-hal yang akan membuat May Day tahun ini menarik (menurut saya pribadi). 

Khususnya yang di Jakarta sebagai Ibu Kota negara. Dalam peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini, setidaknya 50.000 buruh yang tergabung dalam Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI) akan menggelar aksi untuk mendeklarasikan 'Panca Maklumat' yang berisi lima tuntutan buruh kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ketua umum KRPI, Rieke Diah Pitaloka, mengungkapkan bahwa Panca Maklumat tersebut berisi antara lain:

Pertama, mewujudkan Indonesia sebagai negara industri yang berbasis pada riset nasional, dengan berorientasi pada kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia.

Kedua, mewujudkan dengan sungguh-sungguh TRILAYAK Rakyat Pekerja, yaitu Kerja Layak, Upah Layak, dan Hidup Layak bagi seluruh rakyat pekerja Indonesia.

Ketiga, mewujudkan terpenuhinya lima jaminan sosial, yaitu jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan pensiun, jaminan hari tua, dan jaminan kematian bagi seluruh rakyat pekerja Indonesia. 

Keempat, memberikan keadilan bagi seluruh pekerja pelayan publik di pemerintahan, yang berstatus sukarelawan, tenaga harian lepas, honorer, kontrak, pegawai tidak tetap dan pegawai tetap non PNS yang bekerja di seluruh bidang untuk menjadi Pegawai Tetap Negara. 

Dan yang kelima adalah menyelamatkan aset negara dan mengembalikan tata kelola BUMN sesuai perintah konstitusi. Undang-Undang Dasar 1945, sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, kepentingan bangsa dan negara Indonesia. 

Ini baru yang ada di Jakarta, belum lagi di kota-kota yang lain.

Ya ... intinya, mau seperti apa aksi yang akan dilakukan, semoga tidak keluar dari tujuan ditetapkannya 1 Mei sebagai Hari Buruh itu sendiri.

Salam Pekerja.


Referensi: 
  • May Day: History
  • Peringati May Day, 50 Ribu Buruh Tuntut 5 Hal Ini ke Jokowi: Liputan 6

  • Share:

You Might Also Like

0 comments